Hari Perempuan Setiap Hari: Cerita Pemberdayaan Perempuan dari Pesantren Putri

Posted on

Pemberdayaan Perempuan – Hidup di dalam pesantren putri yang semua anggotanya adalah perempuan, kecuali beberapa pengasuh dan santri ndalem, membuat rasanya hari perempuan bisa dirayakan setiap hari. Terlebih, pesantren yang saya huni ini memberi ruang yang cukup luas bagi perempuan untuk mengaktualisasikan diri. Anggapan bahwa santri (putri) merupakan generasi yang jumud atau remnants –(sisa-sisa) peradaban masa lalu yang tidak relevan lagi dengan masa kini, bisa ditepis. Di pesantren yang telah saya diami hampir tujuh tahun ini, saya justru menemukan sejumlah praktik pemberdayaan perempuan yang sangat masif dan terstruktur.

Saya masuk pondok bersamaan dengan masuk kuliah S-1. Beruntungnya saya, di Yogyakarta (yang notabene hanya satu setengah jam dari kampung halaman di Magelang) memungkinkan saya untuk bergelut di dua institusi sekaligus: mondok sambil kuliah, atau kuliah sambil mondok. Saya memilih masuk ke pondok Krapyak setelah sebelumnya diterima kuliah di UGM –sekitar 20 menit naik motor dari Krapyak.

Pemberdayaan Perempuan
PP. Al-Munawwir, Krapyak | Sumber: almunawwir.com

Selain Krapyak, banyak tipikal pesantren seperti ini di Yogyakarta, yang selain ngaji santri-santrinya juga berkuliah di luar atau sebaliknya. Ada Pandanaran, Nurul Ummah, Mlangi, dan masih banyak lagi. Menurut saya, ini karakter khas Yogya sebagai kota pelajar dengan puluhan universitas di dalamnya. Pesantren di Yogya memberi kesempatan luas kepada para santrinya untuk berkuliah di manapun sesuai minat dan kemampuan masing-masing. Di kota-kota lain, kebanyakan, santri mahasiswa kuliah di perguruan tinggi milik pesantren. Jika ada yang membebaskan untuk kuliah di luar, di Malang misalnya, jumlahnya tak sebanyak Yogya. Di Krapyak sendiri kelompok santri mahasiswa ini berjumlah sekitar dua ribuan. Keberadaan santri cum mahasiswa yang kuliah di luar ini menurut saya membawa implikasi pada karakter pondok Krapyak yang open-minded, moderat, dan inovatif.

Saya mendengar cerita dari Bu Nyai, bahwa Komplek Q –salah satu komplek pesantren putri di Krapyak di bawah naungan Al-Munawwir yang kini saya tinggali, dibangun atas prakarsa dan ide K.H. Ali Maksum –mantan Rais Am PBNU, yang diwasiatkan pada adik iparnya K.H. A. Warson Munawwir. Kiai Ali ngendikan, “Son, buatlah pesantren putri untuk mahasiswa yang bisa kuliah di luar!” Timbul keraguan dari Kiai Warson –sang penulis kamus Al-Munawwir itu, “Kalau santrinya mahasiswi macam itu, bukankah pondok akan dinomorduakan?” mungkin kira-kira begitu batin beliau saat itu.


Pemberdayaan Perempuan
K.H. A. Warson Munawwir | Sumber: almunawwir,com

Tapi toh akhirnya pada 1989 pesantren itu lahir juga. Sejak awal, Kiai Warson telah siap dengan sikap demokratis untuk diterapkan pada santriwati-santriwatinya. Beliau ingin para santri yang telah “dewasa” ini berkembang pola pikirnya demi menyiapkan kader-kader mumpuni di masa depan. Alhasil, apa yang terjadi di Komplek Q adalah praktik demokrasi deliberatif yang cukup signifikan di mana santri dipersilakan membentuk pola kegiatan pesantrennya sendiri, sekaligus melaksanakan dan menerapkan sistem kontrolnya, sedangkan pengasuh berada di posisi etis untuk menegur dan mengarahkan apabila dalam praktiknya ada suatu hal yang dinilai keliru. Inilah latar belakang bagaimana praktik pemberdayaan perempuan yang saya maksudkan bisa terjadi.

Pemberdayaan Perempuan
Komplek Q, Pesantren Khusus Putri | Sumber: instagram @komplekq

Di Komplek Q, para santri –terlebih bagi mereka yang tergabung dalam kepengurusan, mendapat kesempatan besar untuk merasakan apa yang saya sebut praktik pemberdayaan tadi. Praktik pemberdayaan ini memberi peluang bagi santri untuk menumbuhkan inisiatif, kreativitas, inovasi, pemikiran solutif, pola pikir mandiri, dan jiwa kepemimpinan, di samping pembentukan intelektualitas keislaman tentu saja. Praktik pemberdayaan perempuan yang terjadi di pondok pesantren putri ini saya kerangkai menjadi beberapa hal yaitu: intelektualitas, inisiasi, kreasi, negosiasi dan pencarian solusi.

Intelektualitas

Pendidikan pola pesantren tak hanya menjadi sistem pendidikan tertua di Indonesia, tapi juga boleh dikata merupakan pelopor emansipasi pendidikan yang mencetak intelektual-intelektual perempuan. Pendidikan ini dimaknai bukan semaa dalam bentuknya yang formal melainkan lebih kepada proses transformasi ilmu agama oleh para ulama yang fleksibel tak menutup diri untuk kalangan perempuanIni artinya, praktik pemberdayaan perempuan telah lama dilakukan oleh pesantren.



Institusi yang mendeklarasikan diri sebagai pesantren untuk perempuan baru muncul pada 1923 di Sumatera Barat bernama Perguruan Diniyyah Putri Padang Panjang yang didirikan oleh Rahmah El-Yunussiyah. Menyusul pada 1927 di Jawa, Pesantren Manbaul Ma’arif, Denanyar, besutan Kiai Bisri Syansuri membuka pesantren untuk perempuan. Kemunculan pesantren perempuan ini bisa dibilang cukup ketinggalan ketimbang hadirnya sekolah-sekolah formal buatan kolonial yang muncul secara jamak di tanah air sejak politik etis dicetuskan pada rezim Ratu Wilhelmina pada 1901. Meski demikian, pendirian sekolah formal kolonial masa itu pun masih sangat bias oleh diferensiasi kelas dan gender.

Terlepas dari institusi, proses pembelajaran dari para ulama ke sejumlah perempuan secara non-formal sudah selangkah lebih dulu dilakukan. Menengok riwayat Kartini yang hidup menjelang di akhir abad 19 hingga awal abad ke-20, ia hanya sempat diperbolehkan menempuh sekolah Europese Lagere School (ELS) hingga usia 12 tahun untuk kemudian mendekam dalam pingitan. Gagal menggapai impian sekolah ke Belanda saat itu, selain belajar dari membaca literatur secara mandiri dan berkorespondensi dengan para sahabat penanya, akses belajar lainnya justru ia dapatkan dari seorang ulama, K.H. Sholeh Darat. Kartini belajar tafsir Alquran melalui kitab Tafsir Faidlur Rahman fi Tarjamati Tafsir Kalam Malikid Dayyan dengan diampu oleh pengarangnya langsung.

Pemberdayaan Perempuan
Europese Lagere School (ELS)

Catatan sejarah lebih tua yang dirilis Peter Carey menemukan bahwa pada abad 18, Raden Ayu Danukusuma, Putri Sultan Hamengkubuwana I disebut memiliki kitab terjemahan berbahasa Jawa berjudul Al-tuhfa Al-mursala Ila Ruh Al-nabi karya Muhammad Fadlallah al-Burhanpuri. Kitab tasawuf yang cukup berbobot itu bukan satu-satunya kitab milik Raden Ayu Danukusuma. Ia juga dicatat memiliki kitab Bustanus-Salatin. Ini menunjukkan bahwa kitab-kitab para ulama telah dapat diakses oleh para perempuan pada masa itu.

Fakta yang lebih mencengangkan lagi ditampilkan oleh Martin Van Bruinessen. Di abad 19, Fatimah, seorang perempuan Melayu cucu ulama besar Kalimantan, Syekh Muhammad Rasyad Al Banjary telah menulis sebuah kitab fikih yang kemudian dikenal dengan kitab Perukunan Jamaluddin. Kitab yang memuat persoalan fikih seperti salat, puasa, dan perawatan jenazah ini merupakan hasil catatannya selama belajar kepada sang kakek. Tidak banyak orang tahu bahwa Fatimah merupakan penulis kitab tersebut. Di samping tidak adanya hak cipta, otoritas kerajaan saat itu hanya mengakui keulamaan laki-laki sehingga membuat kitab tersebut dinisbatkan pada nama seorang laki-laki, Jamaluddin.


Pemberdayaan Perempuan
Kitab Parukunan karya Fatimah | Sumber: alif.id

Suatu kabar baik bahwa proses pembentukan intelektualitas ala pesantren kepada kaum perempuan ini kini mengalami kemajuan yang cukup pesat. Hal ini ditandai dengan semakin banyak munculnya pesantren-pesantren khusus perempuan seperti Komplek Q. Kurikulum pembelajaran di Komplek Q didesain secara berjenjang. Ketika awal masuk, setiap santri harus mengikuti placement test untuk menempati kelas sesuai kemampuannya. Ini penting untuk membedakan santri yang telah memiliki cukup bekal ilmu agama dengan mereka yang akan belajar dari nol.

Materi yang diajarkan di Komplek Q terbilang cukup komprehensif mulai dari Ilmu Alquran, Tajwid, Tafsir, Tauhid, Fikih, Ushul Fikih, Qowaid Fikih, Akhlak, Tasawuf, Nahwu, Saraf, Bahasa Arab, Tarikh, hingga Bahtsul Masail. Semua materi ini tentu tidak bisa dilahap sekaligus, butuh setidaknya enam tahun jika hendak mengkhatamkan seluruhnya. Pada jenjang awal, santri baru diperkenalkan dengan dasar-dasar fikih, konsep akhlak, serta dasar-dasar ulumul lughoh.

Menapaki jenjang berikutnya –tentu saja setelah melalui serangkaian ujian, pilihan kitab mulai ditambah bobotnya seiring dengan kemampuan kritis-dan analitis yang semakin diasah. Puncaknya di Mustawa Khomis atau kelas tertinggi mereka harus mampu menorehkan sebuah karya ilmiah sebagai bentuk kristalisasi keilmuannya yang disebut dengan Tugas Akhir (TA). Menariknya, isu yang diangkat dalam TA ini tidak hanya dibatasi pada permasalahan di seputar pesantren –khususnya Komplek Q belaka, tapi dapat dikembangkan dengan menggali fenomena sosial atau fenomena ilmiah yang lebih luas. Ini dilakukan demi memberi ruang ekspresi lebih bagi para santri yang berasal dari beragam minat keilmuan yang berbeda –seperti berbagai jurusan di kampus.



Sampai di sini saya menilai TA di Komplek Q menjadi sebuah karya otentik di mana seorang santri perempuan mampu menuliskan sari-sari pengetahuannya sekaligus mempertanggungjawabkannya di hadapan para ustaz/ustazah penguji sebelum akhirnya diwisuda. Sebuah contoh kongkret bagaimana pesantren putri mencetak seorang scholar, seorang intelektual.

Bersambung…
Ikuti Kisah Pemberdayaan Perempuan di Pesantren Putri selanjutnya.

Khalimatu Nisa
Krapyak, 11 Maret 2018

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *