Pentingnya Perencanaan Keuangan Keluarga (1)*

Posted on

Perencanaan keuangan keluarga masih kurang akrab di telinga masyarakat menengah ke bawah khususnya warga Nahdliyyin. “Bagaimana mau merencanakan, lha wong dapat uang saja ndak pernah,” celetuk seorang bapak-bapak Nahdliyyin suatu ketika. Merasa rezeki pas-pasan membuat sebagian orang enggan membuat rencana muluk-muluk, cukup untuk makan dan memenuhi kebutuhan hidup saat itu saja sudah alhamdulillah. Ditambah lagi kalangan santri punya satu   keyakinan bahwa rezeki itu min haitsu laa yahtasib, terkadang datang dari arah yang tak terduga. Jadi, perkara uang tidak perlu terlalu dipusingkan, karena Allah akan menolong kita.

Namun kali ini Pengurus Lembaga Kemaslahatan Nahdlatul Ulama (LKKNU) punya terobosan baru untuk mengajak masyarakat melek keuangan, atau istilah kerennya, financial literacy. Ide ini dicetuskan oleh Alissa Wahid, sekretaris LKK-PBNU cum psikolog keluarga yang sering menemui masalah-masalah seputar keuangan keluarga di akar rumput.

Alissa Wahid
Alissa Wahid
Sumber: abc.net.au

Sejak 2012 Alissa bersama timnya mencoba melakukan workshop financial literacy kepada masyarakat kecil di komunitas Nahdliyyin. Poinnya, ia ingin mengajak orang-orang dewasa ini memetakan secara jelas kebutuhan-kebutuhan masa depan mereka dan melakukan antisipasi dari sekarang melalui investasi. Masalahnya, membumikan investasi di segmen masyarakat ini bukan  perkara gampang. Seringkali mereka mendapat pertanyaan, “Reksadana, obligasi, deposito, kuwi barang apa?” Memang, investasi rasanya lebih akrab bagi kaum menengah ke atas  karena kebanyakan orang berpikir punya duit dulu baru investasi. Hal ini malah justru menyebabkan kesenjangan meningkat, yang kaya makin kaya, yang miskin makin miskin.

Alissa mencoba melobi Otoritas Jasa  Keuangan (OJK) untuk mengupayakan produk investasi ramah wong cilik tetapi belum juga berhasil. Hingga akhirnya tahun 2015 gayung bersambut, PT. Pegadaian meluncurkan produk Tabungan Emas mulai 0.01 gram. Nasabah bisa menabung mulai Rp5.000 (menyesuaikan fluktuasi harga per gram emas) dan dengan demikian ia  mencatatkan saldo 0.01 gram tabungan emas di buku rekeningnya. Ini menarik lantaran emas merupakan produk keuangan yang tahan inflasi dan dapat menjadi solusi investasi yang terjangkau bagi warga  Nahdliyyin. Alissa pun segera menggandeng PT. Pegadaian untuk berkampanye perihal financial literacy ini kepada segenap warga Nahdliyyin. Edukasi yang digagas ini lebih bersifat practical dan belum menyentuh ranah perdebatan hukum fiqihnya karena hal itu tentu saja memerlukan pembahasan secara khusus.

Sebelum mengetahui bagaimana tahapan perencanaan keuangan keluarga dan apa keuntungan serta resiko berinvestasi dengan tabungan emas pegadaian, ada baiknya kita sedikit melakukan  brainstorming ihwal urgensi perencanaan keuangan keluarga.


Mengapa perlu  melakukan perencanaan keuangan keluarga?

Sedari  awal saya sudah begitu bersemangat ketika mendapat undangan untuk mengikuti workshop ini. Bagaimana tidak, dari judulnya saja sudah  menggiurkan -perencanaan keuangan keluarga- membuat saya langsung membayangkan sebuah keluarga kecil nan bahagia yang akan saya bina bersama suami idaman di masa depan. Workshop ini digelar di Aula G PP.Al-Munawwir Krapyak, Yogyakarta. Audiens yang datang hampir seluruhnya anak muda, mayoritas para pengurus pesantren, karena  undangannya  memang ditujukan kepada perwakilan pengurus. Saya datang bersama Ana Nikmaturrahmah  selaku bendahara  PP. Al-Munawwir Komplek Q. Ketika datang, saya masih menerka, kira-kira workshop ini akan  membahas rencana  keuangan pribadi atau bisa diterapkan pula pada institusi?

Perencanaan Keuangan
Perencanaan Keuangan
Sumber: perencanakeuangan.top

Oh ya, sebelum masuk ke inti materi workshop-nya, saya terus terang mendapat impresi positif saat melihat penataan tempat workshop ini. Aula G di-setting serupa ruang meeting dengan meja yang  ditata letter “U”. Dengan penataan ini, semua peserta –baik  laki-laki maupun perempuan, bisa duduk sejajar dan mendapat akses langsung untuk melihat ke pemateri. Mengapa ini membuat saya bersyukur? Karena seringkali, dalam seminar yang melibatkan santri putra dan putri, santri putri ditempatkan di bagian belakang dan dibatasi satir cukup tinggi sehingga penglihatan ke arah pembicara cukup terganggu. Menurut hemat saya, proses pembelajaran secara audio-visual tentunya akan lebih maksimal dibanding mengandalkan aspek audionya saja. Di sisi lain, karena mengira acara ini akan berlangsung lesehan -sebagaimana kebanyakan acara di pesantren, saya sudah siap-siap bawa meja lipat dari pondok untuk alas laptop –karena memang dianjurkan untuk membawa laptop dan smartphone android, supaya tidak pegal-pegal punggung. Ternyata, meja sudah disediakan dengan rapi, jadilah meja lipat saya tinggal di motor. Tabik untuk panitia.

Acara ini dihadiri  oleh sejumlah tokoh representasi dari LKK PWNU DIY, PWNU DIY, PT. Pegadaian, RMI-NU DIY, dan Pengasuh PP Al-Munawwir Krapyak. Muhammad Nasih Ridwan selaku ketua LKK PWNU DIY mengawali pembukaan acara dengan menyitir perkataan dari KH. Alie Yafie  bahwa ciri  keluarga yang maslahah adalah rezeki yang cukup atau keuangan yang memadai. KH. Hilmy Muhammad yang menjabat sebagai Wakil Rois Syuriah PWNU juga menguatkan dalam sambutannya bahwa Rasulullah SAW bersabda, memanajemen keuangan  adalah setengah dari maisyah.



Banyak kasus membuktikan, sebagaimana dipaparkan Alissa, kelemahan ekonomi keluarga berbuntut pada banyak hal utamanya KDRT dan tertutupnya akses ke pendidikan tinggi. Di pelosok desa, banyak warga NU yang masih berpikir bahwa biaya kuliah sangatlah mahal, sehingga menapaki jenjang pendidikan tinggi rasanya tidak mungkin. Alissa mengatakan, padahal, hal itu memungkinkan untuk disiasati melalui strategi investasi. Dengan catatan, berinvestasi pun harus dilakukan secara baik dan benar. Jangan sampai warga NU justru terjerumus dalam investasi bodong yang hingga kini masih merajalela.

Edukasi dan pengarusutamaan “melek” finansial ini di skala nasional memang masih minim dibandingkan di negara-negara lain. Di Malaysia misalnya, ungkap KH. Hilmy Muhammad, ada pelatihan intensif calon pengantin seputar isu kerumahtanggan termasuk isu finansial yang diprakarsai oleh pemerintah. Malaysia sadar betul bahwa ketahanan keluarga sama dengan ketahanan negara. Sedangkan di Indonesia, banyak pasangan menikah tanpa  persiapan yang memadai sehingga menimbulkan serentetan problem di kemudian hari.

Sampai di sini, pikiran lama saya mencuat kembali. Memang seringkali, manusia tidak mempersiapkan diri  untuk menghadapi apa yang niscaya akan dihadapi khususnya soal berumah tangga dan memiliki anak. Padahal, gagal berumahtangga atau gagal mendidik anak bisa membuat seseorang merasa gagal menjalani hidup. Dampaknya juga bukan hanya pada diri sendiri tapi juga bisa menyangkut keluarga besar, bahkan jadi ancaman buat negara. Tapi rasanya, orang-orang lebih  takut gagal ujian daripada gagal berkeluarga atau mendidik anak. Menjelang ujian kita belajar keras, beberapa bahkan menghalalkan beragam cara agar lulus  ujian. Tapi persiapan apa yang kita lakukan ketika hendak membangun sebuah keluarga? Kadang, yang terakhir ini masih sering dilakukan secara serampangan.

Perencanaan Keuangan Keluarga
Pernikahan
Sumber: vemale.co.id

Bicara soal hidup berumah tangga, menjelang hari pernikahan, rata-rata orang Indonesia disibukkan dengan persiapan pestanya yang tidak sederhana dan melibatkan banyak orang. Sedangkan untuk persiapan substansinya seperti memahami bagaimana kaidah fiqih antara suami istri, desain ekonomi keluarga, kesehatan reproduksi, payung hukum legal-formal terhadap keluarga, atau konsep pendidikan anak, berada di ranah inisiatif pribadi. Semakin banyak seseorang mau membaca, menggali informasi atau bertanya maka dia akan semakin paham dan antisipatif. Sebaliknya, jika seseorang menganggap proses ini adalah proses alamiah belaka, bukan tak mungkin  fase ini akan dijalani begitu saja, tanpa persiapan, tanpa rencana dan baru mau belajar ketika problem datang. Nah, sayangnya kebanyakan orang berada di kelompok yang terakhir ini. Memang banyak program pendampingan keluarga yang digagas oleh pemerintah maupun masyarakat sipil. Tapi seberapa banyak sosialisasinya bagi generasi muda demi sebuah kesiapan dan antisipasi?

Saya rasa pesantren sebagai lumbung generasi muda memiliki  peran strategis membangun ketahanan keluarga melalui penyiapan kader-kader yang antisipatif menyambut fase ini. Baik itu secara hukum, kesehatan, maupun ekonomi. Bersambung… [Khalimatu Nisa]

 

*tulisan ini adalah catatan hasil workshop Perencanaan Keuangan Keluarga yang saya ikuti pada Sabtu, 16 Desember 2017 silam di PP. Al-Munawwir Krapyak. Dengan niat menyebarkan informasi penting dan bermanfaat, tulisan mengenai workshop ini akan saya tulis ke dalam tiga bagian.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *