Berbagi Puisi

Posted on
Berbagi Puisi
Berbagi Puisi
                                                                  Sumber: pinterest.com

Malam ini jalan raya yang kulalui terlihat lengang. Gerimis baru saja reda, meninggalkan bau basah dan hawa malas di seluruh penjuru kota. Jalan raya sepi orang lalu lalang, tak ada nyaring klakson ramai bersahut-sahutan. Namun, aku tidak merasa kesepian seperti biasanya. Kau tahu kenapa? Sebab kini aku punya seorang teman yang tengah menungguku untuk berbagi sebuah puisi. Kukayuh sepeda penuh semangat bersama hati yang bersorak. 

***

Tidak biasanya aku berangkat sekolah dengan perasaan sebahagia ini. Jalan raya yang kulalui mendadak menjelma menjadi taman yang indah. Berjuta debu yang terapung di udara membentangkan sayap layaknya kupu-kupu. Awan-awan sirus bertebaran serupa lengkung-lengkung senyum. Suara-suara klakson, derum gas dan decit-decit rem berpadu mencipta sonata yang merdu. Kedua kaki kecilku mengayuh sepeda dengan ringan sungguh. Hari ini aku ingin berbagi sebuah puisi.

Aku memarkir sepedaku di tempat seperti biasa. Selanjutnya, kuambil selembar kertas berisi sebuah puisi dari saku rok abu-abuku. Kupegang kertas itu erat-erat, kuedarkan pandangan mencari teman untuk berbagi puisi.

Seseorang memarkir mobilnya tak jauh dari sepedaku. Tak lama, Eric si pemilik mobil keluar disusul teman-temannya. Aku ingin mendekati mereka dan menunjukkan puisiku. Namun, aku ragu karena seragamku tampak begitu kucel dibanding kepunyaan mereka. Pun sepatuku yang kulitnya mulai terkelupas. Kucoba melempar senyum, tapi tak ada balasan dari mereka kecuali sekelebat wangi parfum impor. Baiklah aku sadar diri, bagi mereka aku bukanlah teman.

Aku berjalan sampai koridor. Kulihat dua orang berjalan tergesa-gesa membawa tumpukan map tebal. Mulut mereka berkomat-kamit, tampak serius membicarakan sesuatu. Rudi dan Yulia, para aktivis yang juga teman sekelasku. Hatiku gembira, kulambaikan tangan kearah mereka.

“Rud, Yul!”

“Proposal harus diteken hari ini juga. Esok kita menyebar pamflet lalu mencari sponsor. Dua minggu dari sekarang, technical meeting harus segera diadakan bla bla…” Jangankan menjawab, menoleh pun mereka tidak. Dengan langkah-langkah cepat, mereka berlalu begitu saja.



Aku tiba di kelas tepat begitu bel berbunyi. Jam pertama adalah pelajaran Kimia. Bu Euis masuk tanpa memberi salam dan langsung mengutak-atik notebook serta proyektor. Tak lama, deretan soal Kimia muncul pada screen. Seketika kelas senyap, semua berkutat dengan soal-soal. Aku masih menggenggam puisiku.

Saat istirahat, kulangkahkan kakiku menuju perpustakaan sambil terus berharap menemukan seorang teman untuk berbagi puisi. Perpustakaan sepi, cuma ada empat orang yang tengah bergerombol. Salah satu diantaranya Riska. Aku hendak menghampirinya ketika langkahku dicegat petugas perpustakaan.

“Jangan mengganggu, mereka sedang mempersiapkan materi untuk kontes debat!” Aku pun mengangguk lemah, lalu pergi.

Kupikir ada baiknya aku pergi menemui guru Bahasa Indonesia. Mestinya, ia antusias berbagi puisi denganku. Dari ambang pintu, aku melihat guru-guru di dalam kantor sedang bercengkrama dengan ceria.

“Cari siapa?” Tanya Pak Puji.

“Bu Nur Laela, Pak. Beliau ada?”

“Ada, tapi sedang tak bisa diganggu.”

“Saya cuma ingin menunjukkan puisi. Cuma sebuah.”

“Kamu bisa menunjukkannya nanti di dalam kelas saja. Sekarang, Bapak-Ibu sedang sibuk,” Pak Puji tersenyum sebelum berlalu. Aku mencuri pandang ke dalam kantor. Sebuah botol sedang diangkat tinggi-tinggi oleh sebuah tangan. Botol itu lalu dikocok kemudian dijungkirkan. Segulung kertas jatuh.

“Rejeki bulan ini jatuh kepada… Bu Nur Laela!” Bu Nur Laela, melonjak sambil bertepuk tangan. Belum pernah kulihat ia segirang itu. Ya, Bapak-Ibu Guru sibuk sekali. Aku mundur teratur.

Sampai di kantin, mataku menangkap sosok Nancy. Ia adalah teman bermainku ketika TK, SD dan SMP. Nancy juga gemar membuat puisi. Ia tentu akan sangat tertarik untuk berbagi puisi bersamaku. Kuhampiri Nancy dan kusadari ia tambah berlipat-lipat cantiknya. Kulitnya makin putih mulus, perutnya rata, rambutnya mengkilap bergelombang dan seragamnya menunjang lekuk liku tubuhnya.



“Maaf, sekarang aku tak tertarik lagi dengan puisi,” jawabnya menanggapi ajakanku. Ia lalu berlari kecil-kecil menghampiri teman-temannya yang juga cantik-cantik. Mereka lalu berbagi bedak dan sisir. Aku menelan ludah. Rupanya aku keliru, Nancy sudah bukan Nancy lagi.

Aku berjalan tak tentu arah sampai kusadari tiba-tiba aku ada di pinggir kolam di pojok sekolah. Beberapa lelaki duduk di bawah rumpun pohon pisang. Kancing seragam mereka dibiarkan terbuka dan celana-celana gombrong yang mereka kenakan dilipat sampai lutut. Di tangan mereka ada kartu-kartu. Di tanah, berlembar-lembar uang ribuan bertebaran. Entah apa yang tengah dilakukan, mereka tampak asik sekali. Yoyok kakakku, ada disana.

“Yok,” panggilku.

“Ngapain disitu? Mata-mata ya?” Aku buru-buru menggelengkan kepala.

“Sudah sana pergi,” katanya.

“Siapa dia Yok? Pacarmu?” tanya seorang lelaki.

“Bah! Melihat mukanya saja aku ingin berak!” jawab Yoyok dengan wajah memuakkan diiringi tawa teman-temannya. Aku langsung beringsut menjauh. Saat itu juga, dadaku terasa sesak dan aku ingin menangis. Puisiku yang selembar itu kuremas dalam kepalan tangan.

Mataku mulai sembab dan langkahku kuarahkan menuju toilet. Di depan pintu toilet aku mendengar desah nafas yang tak lazim, juga santer bunyi kecup. Pintu toilet kujeblak. Sepasang lelaki perempuan berseragam putih abu-abu saling gigit. Tangan-tangan mereka saling mencengkeram punggung seragam yang lain. Mereka memelototiku, merasa terganggu. Seketika perutku mual. Aku buru-buru berlari pergi.

Kumasuki sebuah gudang yang pengap. Pintunya kututup rapat-rapat. Aku duduk lemas di pojoknya. Tak satupun teman kutemukan untuk berbagi puisi. Bel meraung-raung memerintahkan semua murid kembali ke kelas.  Aku tak peduli. Kutenggelamkan wajahku pada kedua lututku. Kuremas puisiku lagi-lagi. Kesepian memelukku erat sekali, seperti selalu. Aku menangis.

Ditengah isakku, kudengar sesuatu. Sebuah nada. Aku mendongak. Dua buah nada terdengar, sekarang. Kulihat sekeliling tak ada siapa-siapa tapi suara itu begitu dekat. Tiga buah nada. Aku menyeberangi ruangan. Suara itu sepertinya berasal dari balik lemari jati. Kutengok, ternyata benar, seorang lelaki duduk bersama biolanya. Berpenampilan biasa, berperawakan sedang dan mengenakan seragam yang sedikit kebesaran.



Ia memejamkan mata lalu menggesek biolanya pelan, menciptakan nada-nada tak hanya dua atau tiga tapi beruntun hingga menjelma sebuah lagu. Aku hanyut dalam alunan yang begitu sendu. Sampai lagu selesai aku masih berdiri terpukau di samping lemari jati.

Fur Elise,” bisikku pelan. Lelaki itu mendongak dengan tenang lalu mengangguk.

“Ah, maaf mengganggu,” kataku buru-buru sambil bersiap pergi sebelum diusir.

“Mau kemana? Ini sudah terlambat,” kata lelaki itu. Belum pernah ada sebelumnya, orang yang menghalangiku pergi.

“Tak bisakah disini dulu? Barangkali kita bisa berbagi sesuatu?” Aku terhenyak, merasa aneh.

“Benda busuk apa ditanganmu itu?” ia bertanya dengan sebersit senyum yang akrab. Aku menggeleng, menyembunyikan puisiku. Ia mengulurkan tangan, ia tengadahkan. Aku menggeleng lagi. Ia bergeming, tatapannya meminta. Maka kuserahkan puisiku yang terlanjur lusuh seraya duduk di hadapannya.

Puisiku dibacanya sungguh-sungguh. “Kisah pertemanan yang indah ya?” tanyanya dengan tatapan hangat.

“Tidak. Itu cuma omong kosong.”

“Kenapa?”

“Aku tak punya teman.” Ia mengernyitkan dahi.

“Semua orang terlalu sibuk untuk berteman denganku. Kau tahu, dalam dunia yang cuma satu ini terkandung jutaan dunia-dunia lain. Dunia yang dimiliki tiap orang berikut kepentingan serta urusan mereka. Dan jurang pemisah antara duniaku dengan dunia-dunia itu aku tak tahu bagaimana atau dengan apa bisa menembusnya. Maka aku tak pernah, tak pernah bisa berbagi,” jelasku.

“Apa itu juga berlaku untukku?” Aku menatapnya agak lama lalu mengedikkan bahu.

“Bacakan puisimu. Aku tak keberatan menyatukan duniaku dan duniamu. Sekarang aku temanmu, kita bisa berbagi.” Aku diam.

“Ayo.”

“Kan kau sudah baca sendiri?”

“Jadi kau mau kehilangan kesempatan mendapatkan seorang teman?” Ia mengancam licik. Aku ragu-ragu. Kuraih puisiku. Kubaca kata pertama dengan canggung. Ia menggesek biolanya, membuatku bingung.

“Baca terus,” bisiknya.



Aku terus membaca bait pertama. Sementara ia dengan penuh penghayatan menyusun nada-nada. Ia mengisi puisiku dengan sebuah Ode To Joy. Pelan tapi pasti, emosi kami terbangun. Puisiku menemukan nyawanya. Bersama lelaki ini aku tak lagi membaca puisiku. Aku merasakannya.

Ketika kata terakhir kutuntaskan, kami saling pandang. Kami bisa saling membaca bahagia dari sorot mata. Bahagia itu lalu kutafsirkan, perasaan memiliki teman.

***

Kemarin, saat kutanya lelaki itu tak mau menyebutkan namanya. Ia berjanji akan memberi tahu namanya dan dari kelas mana dia berasal, asal aku mau datang malam ini. Ia bilang, ia ingin berbagi puisi lagi. Bahkan, ia mengajakku membuat puisi baru dengan riang Pachelbel’s Canon.

Sampai aku di sekolah. Kali ini kuparkir sepedaku di dekat gudang. Tanganku membuka pintu gudang dengan tak sabar. Gelap. Mungkinkah lelaki itu akan memberiku kejutan? Kutunggu beberapa detik, tidak ada tanda-tanda. Akhirnya lampu kunyalakan sendiri. Tak ada siapa-siapa. Ah, dia pasti bersembunyi di balik lemari jati.

“Dor!” aku mengagetkannya. Tapi dia tak ada. Aku berjalan memutari ruangan, melongok ke kolong-kolong meja, menyibak tiap kain yang mengerudungi alat-alat jahit tua, membongkar tumpukan buku-buku, dan dia tetap tidak ada. Aku terduduk lesu. Dia berbohong, dia tak datang. Kuraih puisiku dan menggumamkannya pelan. Sendirian, tanpa Ode To Joy. Ubin terasa begitu dingin.

menghabiskan waktu denganmu adalah

merekayasa dunia

hijau perbukitan

kita mengitarinya

pelan-pelan

meresapi tiap langkah di atas

punggung sapi yang bergoyang

kita bertukar bahagia

cericit burung tentang

pesta buah minggu depan

kejujuran kita alirkan lewat

sungai kecil yang memanja

keluarga-keluarga ikan

dan keabadian kita tanamkan

pada akar trembesi yang

mencengkeram bumi

dunia kita tak takut kehilangan apa-apa

sebab mataharinya selalu

berjanji

singgah lagi esok hari

Akhirnya aku meremas puisiku untuk meyakinkan diri bahwa lelaki itu tak ada. Memang tak pernah ada, kecuali imajinasiku. Aku tak pernah, tak pernah benar-benar berbagi puisi dengan siapapun. Sebulir air mata menggelinding dari mataku sampai ke pucuk dagu, lalu menetes. [Khalimatu Nisa]

 

Magelang, 02 November 2010

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *