Mimpi dalam Bingkai

Posted on
Mimpi dalam Bingkai
Mimpi dalam Bingkai
               Sumber: flickr.com

Mimpi dalam Bingkai. Kepergian seseorang secara tiba-tiba, selalu saja membekaskan rasa tidak percaya. Seperti mimpi buruk yang kita ingin segera terbangun darinya.

Air siraman yang terakhir itu telah dicampur dengan kapur barus, sesuai tuntunan kitab Fath al-Qarib yang dipelajari Ibu ketika mondok dulu. Enam tahun mengaji di pesantren membuat Ibu paham betul tata cara merawat jenazah. Dan apa yang ada dalam kitab dasar fiqh itu ia taati benar. Termasuk larangan meratapi jenazah.

Pada detik ruh Bapak berpisah dengan jasadnya, tak kutemui guncangan berarti pada diri Ibu. Segera ia lafadzkan innalillahi wa innailaihi rojiuun. Sesungguhnya semua milik Allah dan kepada-Nya lah semua akan kembali. Dan sesegera itu pula hatinya mengikhlaskan.

Pandanganku nanar menatap Ibu dan beberapa sanak saudara laki-laki mengafani jenazah Bapak, dari kejauhan. Baru beberapa jam lalu sosok yang terbaring itu meminta dua gelas air padaku. Mengapa dua? Satu lagi untuk tamu yang akan datang, ucapnya pelan sambil terpejam. Aku menatap Ibu yang menatapku dengan isyarat, kala itu. Ia juga menangkap pertanda yang sama. Mengabaikan bebulir air mata yang mulai meleleh di pipi, cepat-cepat kuambil dua gelas air sesuai permintaan dan kususul Ibu di sisi ranjang. Setelah membantu Bapak menuntaskan beberapa tegukan, beberapa jam itu lalu kami habiskan dengan terus menerus membisikkan kalimah tahlil di telinganya. Hingga akhirnya tamu yang dimaksud datang. Tamu yang tak sempat menyentuh air jamuan. Tamu yang menjemput Bapak pulang.

Senja mengantarkan Bapak menuju peristirahatan terakhirnya di dunia. Bapak baru saja menyelesaikan satu urusan. Setiba di liang lahat nanti, ia akan hidup di alam yang sama sekali berbeda. Hingga waktu yang ditentukan, ia akan berpindah ke alam yang lain lagi. Beberapa tahap sampai akhirnya manusia sampai di titian penentu itu: surga atau neraka. Begitulah yang agama kami yakini.

Konsep itu juga yang Bapak perkenalkan padaku. Juga pada anak-anak tetangga yang berbaris di pinggir jalan itu, menyaksikan pemberangkatan jenazah Bapak dalam bisu. Aku kenal mereka, Erik, Nayla, Aini dan Dicky. Kesemuanya, ditambah beberapa anak lagi, adalah murid Bapak mengaji di mushala tiap sore.

Yang kutahu, semangat mengaji mereka selalu tinggi. Jika Bapak terlambat datang, lima menit saja, kaki-kaki kecil mereka akan segera sampai di teras rumah dan mulut-mulut kecil itu lantang memanggil-manggil nama Bapak. Ketika kubilang Bapak belum pulang dan ngaji diliburkan, raut wajah riang itu seketika akan berubah muram. Kini, di pinggir jalan itu, raut wajah serupa kutemukan lagi. Mereka tentu sudah tahu tanpa perlu aku berkata bahwa pengajian sore bersama Bapak mulai hari ini libur, libur untuk selama-lamanya.

Mobil yang membawa jasad Bapak memasuki sebuah gerbang desa yang berdebu. Di desa sunyi inilah Bapak menghabiskan masa kecilnya. Tidak banyak yang diceritakan padaku. Pun kukira, kehidupan anak kecil miskin di sebuah desa miskin zaman itu hanya berkisar pada permainan gundu, benthik, dan betengan pada siang hari lalu berlanjut mengaji ketika petang hingga malam menjelang.



Di usia lima belas tahun Bapak meninggalkan desa ini untuk menempuh pendidikan guru agama di Kota Madya.  Desa sunyi pun kehilangan seorang pemuda yang lugu lagi pemalu. Sebab semenjak bertemu dan menikah dengan Ibu, ia memilih menetap di Kota Madya dan tak pernah benar-benar kembali, menghabiskan waktu di desa seperti pada masa kecilnya.

Namun bagi Bapak, desa sunyi adalah rumahnya yang sejati. Sejak masa kecilku sering kudengar ia berwasiat untuk dimakamkan di desa ini, di taman bermainnya. Maka hari ini, kami antarkan Bapak pulang, kembali muasalnya. Menyusul ayah, ibu, dan kakak tertuanya yang telah terlebih dahulu bersemayam dalam pusara.

Keluarga kami masih melestarikan tradisi tahlil atau sering disebut kenduri. Pada tujuh hari pertama, ritual tersebut dilaksanakan setiap malam berturut-turut. Dalam kenduri, seperti biasa jamaah membacakan bacaan tahlil dan surat yasin yang pahalanya dialamatkan pada ruh atau arwah orang yang meninggal. Kemudian di akhir acara, tuan rumah akan memberikan‘berkat’ berupa makanan yang sudah diberi berkah doa kepada seluruh jamaah. Pahala dari sedekah ini juga ditujukan kepada sang mayyit.

Jika ingin mencari tuntunannya persis dalam kitab suci, tentu hal itu akan sia-sia. Amalan ini adalah perwujudan majelis zikir yang telah mengalami akulturasi dengan kebudayaan Jawa, begitu jawaban singkat Bapak ketika kutanya dulu. Beberapa orang di kampung kami tidak mengamalkannya, dan hal itu tak jadi masalah. Hanya perbedaan furu’ atau cabang dalam beragama saja, tak perlu dibesar-besarkan, lanjut Bapak saat itu.

Kenduri biasanya dihadiri jamaah laki-laki. Semasa hidupnya, Bapak tak pernah absen menghadiri kenduri setiap tetangga kiri-kanan atau kerabat dekat memiliki hajat, kecuali ada udzur tertentu. Sering Bapak membawa pulang makanan berkat yang kemudian berakhir dalam santapanku. Dan layaknya siang yang berganti malam, sesederhana itu pula takdir membolak-balik keadaan. Tidak selamanya Bapak menghadiri kenduri dan ada gilirannya pula, keluarga kami menjadi shahibul hajah.

Selepas isya’ puluhan laki-laki berbagai usia memadati ruangan dalam rumah. Selain Bapak-Bapak, hadir pula teman-teman sebayaku yang kini telah menginjak usia dua puluhan awal. Bahkan di dalam majelis itu, kujumpai pula beberapa anak, Erik dan Dicky diantaranya. Bukan sama sekali tidak ada perempuan yang hadir. Mereka justru datang lebih awal, membantu mempersiapkan nasi berkat dan segala sesuatunya di belakang. Pada titik kehirauanakan keberadaan dan hadirnya orang-orang ini aku tersadar. Mereka lah homo socius beragama yang tengah mengekspresikan solidaritas sosial dalam ruang ketuhanan.



Bapak bukannya tidak pernah bicara soal kematian. Mati, rasanya adalah seperti tenggelam dan terombang-ambing di  lautan, katanya suatu saat ketika aku masih duduk di kelas empat Sekolah Dasar. Kita ingin menggapai permukaan, tapi gagal bergerak, ingin meminta bantuan, tapi tak mampu teriak. “Yang terasa hanya sesak,” lanjutnya.

Bapak tahu seperti itu karena ia mengaku sering mendapat mimpi mati. Keadaan ketika nafasnya tercekat di tenggorokan selama beberapa saat sewaktu dia tidur, badannya tak kuasa bangun seperti ditindih benda yang sangat berat, dan dari bibirnya terucap lenguh kepayahan. Orang Jawa bilang, tindihan. Tapi Bapak, yang demikian dikatakannya sebagai saat ia dipaksa mencicipi kematian. Tak jarang ia menangis setelah terbangun.

Sejak itu, topik kematian tak pernah absen menyelingi obrolan-obrolan kami. Saat ia menceritakan bagaimana rasanya mati, isinya selalu sama. Nada khawatir dan ketakutan juga tak pernah berkurang di sana. Awalnya, rasa takut itu menular. Prasangka-prasangka buruk ikut menguar. Tak jarang muncul dugaan, jangan-jangan itu pertanda ia akan berpulang. Tapi lantaran terlalu seringnya, lama kelamaan, seisi rumah jadi terbiasa. Kami mengira, Bapak hanya punya sedikit masalah di bagian saraf yang membuatnya sering terganggu saat tidur. Sayangnya, ia selalu menolak check up medis. Akhirnya, keluh kesah Bapak soal kematian hanya ditanggapi sambil lalu. Sampai akhirnya kematian benar-benar datang, memisahkan kami dengan obrolan tentang kematian itu sendiri.

Di luar, pembacaan surah yasin masih berlangsung. Di balik jendela kamar, aku termangu. Nyatanya, seberapapun sering kematian disinggung, kedatangannya tak lantas disambut dengan kesiapan. Rasa kehilangan itu terasa nyeri ketika mewujud dalam kerinduan akan hal-hal sederhana yang biasa ditemui setiap hari namun setelah ini tak akan ada lagi. Hal sederhana yang betapapun remehnya menegaskan eksistensi seorang Bapak.

Bapak adalah orang nomor satu yang membangunkanku tiap subuh. Ia akan mengetuk jendela kamarku, tanpa berucap apapun, terus menerus, hingga aku memberi jawaban. Ketika kubuka jendela, akan kulihat Bapak telah siap dengan baju koko, sarung, dan pecinya. Selanjutnya, masih tanpa mengucap apapun, ia akan segera melangkah meninggalkanku yang bergegas menyusul langkah-langkahnya menuju mushala yang berjarak seratus meter dari rumah.  Tapi mulai esok pagi, tak akan terdengar lagi ketukan yang sama dari balik jendela. Aku akan bangun dengan cara berbeda dan tak akan pernah lagi sama. Sekali lagi, air mataku meleleh di pipi. Dan untuk kesekian kalinya, aku berharap kepergian Bapak ini hanyalah mimpi, yang segera aku akan terbangun darinya.


***

Pukul empat lebih seperempat pagi ketika aku terbangun karena suara ketukan yang berasal dari arah jendela. Mataku terasa pedas, seperti habis menangis semalam suntuk. Butuh beberapa saat sampai akhirnya aku tersadar bahwa seharian kemarin aku menangisi kepergian Bapak. Kesedihan kembali menyelubungi. Tapi siapa yang mengetuk jendela itu dari luar? Mirip sekali dengan Bapak. Atau jangan-jangan memang Bapak? Ada riak kecil dalam hatiku yang berharap aku baru saja terbangun dari mimpi buruk kehilangannya.

Mendadak aku gamang antara mimpi dan kenyataan. Jendela itu masih terus diketuk. Masih menunggu jawaban. Takut-takut aku melangkah untuk membuka tirainya. Kusibak tirai itu sembari memejamkan mata, seketika itu juga suara ketukan berhenti. Mataku menangkap bayangan Bapak lengkap dengan baju koko, sarung, dan peci. Tanpa berucap apapun ia berjalan pergi. Kubuka pintu dan kulihat ia berjalan keluar rumah menuju mushala. Gaya yang kuhafal, semuanya masih sama.

Jadi, benar semuanya sekadar mimpi? Ya, ya, agaknya begitu. Tidak ada yang tampak aneh di dalam rumah. Barang-barang tertata rapi seperti sebelumnya, pertanda tak ada hajatan apapun semalam. Ah, bahkan Bapak masih mengetuk jendela untuk membangunkanku. Bapak masih ada! Syukurlah, hanya mimpi buruk yang aku baru saja terbangun darinya. Terima kasih Gusti, segala puji bagi-Mu.

Ada riang di sela langkah-langkah yang kuayunkan menuju mushala. Sayup-sayup, suara adzan terdengar. Suara adzan itu, adzan Bapak yang menyejukkan. Aku masih dapat mendengarnya, ada kelegaan yang tak terperi menyeruak dalam hati.

Shalat subuh yang diimami Bapak terasa berbeda dari biasanya. Untaian fatihah dan surat pendek terlantun liris. Merdunya membius, hingga hening yang tersisa. Tidak ada berisik, udara tenang, seakan alam jeda sejenak untuk mempersilakan jamaah di mushala kecil itu menghadap Tuhannya. Setelah qunut, Bapak mengucap takbir mengiringi sujudnya. Ucapan takbir yang tak biasa, tulus, pasrah, sebuah penghambaan yang total.  Entah mengapa, aku menitikkan airmata dalam sujudku.

Beriringan, aku berjalan pulang dari mushala bersama Bapak. Di saat-saat itu, biasanya ia akan banyak mengajakku bicara soal kematian yang dicemaskannya. “Kadang aku berharap bisa kembali lagi ke masa lalu untuk sekali-kali mengungkapkan rasa sayang kepada orang-orang. Terutama, kepada almarhum kakek, nenek, dan pakdhemu. Agar setidaknya, mereka sempat mendengar, kalau aku begitu menyayangi mereka. Ah, Bapak kangen,” Bapak membuka pembicaraan.



“Kalau kangen ya dikirimi fatihah saja, Pak. Itu juga bukti rasa sayang yang akan sampai kepada mereka toh?” kataku. Aku memandang Bapak, tapi Bapak tetap membiarkan pandangannya menerawang.

“Kalau nanti Bapak meninggal dan dimakamkan di antara mereka, tiba-tiba kematian tampak indah di mata Bapak. Bapak justru akan merasa utuh.” Bapak menoleh ke arahku dan tersenyum. Ini tak biasa. Bapak tak lagi bicara kematian dengan nada cemas. Barangkali aku mesti berbahagia karena ia tak lagi paranoid. Tapi, nyatanya aku tak bisa. Sungguh janggal. Kematian, ia justru menginginkannya. Angin kemudian berhembus seiring derik pohon bambu di kanan-kiri jalan. Aku sedikit merinding. Dan Bapak, masih dengan senyumnya yang begitu gigil.

***

Ketika membuka mata, aku menangkap bayangan jarum jam menunjukkan pukul empat lebih seperempat pagi. Suara cengkerik di luar masih nyaring, selebihnya hening. Mataku pedas, seperti habis menangis semalaman. Aku masih mengumpulkan kesadaran ketika hembusan angin menggoyang-goyang tirai jendela dan menghasilkan bunyi kibas kain. Bukannya aku sudah terbangun, tadi? Maksudku, Bapak sudah membangunkanku? Bagaimana bisa aku terbangun kembali? Di kepalaku mulai terbayang adegan-adegan kenduri, pemakaman dan pemandian jenazah Bapak.

Hati ini mulai gelisah, pikiran-pikiran buruk melintas. Ah, tidak tidak, buru-buru kutepis. Aku berlari menuju pintu, membukanya dan menghambur ke ruang depan. Ada tikar-tikar ditumpuk di sudut ruangan, seperti usai hajatan. Hatiku semakin gelisah dan jantung berdegup lebih kencang. Tidak tidak, kuyakinkan pada diri sendiri bahwa yang kutakutkan tidaklah terjadi. Aku mencari Bapak di setiap ruangan dalam rumah tapi nihil, di kamar, Ibu sendirian, menatapku bingung. Mungkin Bapak sudah berangkat ke mushala, bujukku pada diri sendiri, meski air mata mulai menderas di pipi.

Pintu depan kubuka dan aku berlari ke halaman. Tak ada orang, jalanan lengang. Dari timur angin berhembus. Selembar bendera putih tipis yang diikatkan pada sebilah bambu di depan rumah, tertiup pelan. Aku tak bisa lagi menyangkal.

Rupanya aku baru benar-benar terbangun. Dan Bapak memang telah tiada. Pada subuh itu, aku kembali tergugu.

 

Khalimatu Nisa

Krapyak-Magelang, Februari-Agustus 2013

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *