Resensi Novel Ronggeng Dukuh Paruk: Pergolakan Elite di Atas Ketakberdayaan Kawula Alit

Posted on

Dukuh Paruk. Srintil muda kerasukan indang ronggeng. Sebuah penantian panjang akhirnya usai. Setelah belasan tahun silam Dukuh Paruk kehilangan ronggengnya lantaran wabah racun tempe bongkrek, lahirnya Srintil sebagai ronggeng baru berhasil membangkitkan geliat lama. Calung kembali ditabuh, seruan-seruan cabul kembali diteriakkan. Dukuh Paruk kembali pada jati dirinya.

Seiring pamor Dukuh Paruk yang melejit di seantero Kecamatan Dawuan, tanpa sadar mereka menarik perhatian kekuatan politik yang tengah berkembang saat itu. Dukuh Paruk pun perlahan terhisap dalam arus yang pada akhirnya membanting seluruh entitasnya ke dalam lubang hidup yang kelam.

Trilogi Ronggeng Dukuh Paruk mengisahkan fenomena sosial sebuah kesatuan geografis kecil di Banyumas, Jawa Tengah. Sebuah perdukuhan yang tertinggal peradabannya. Perdukuhan yang kata Ahmad Tohari, “Sakit, bodoh dan cabul.”

Perdukuhan itu hanya dihuni oleh 23 rumah yang seluruhnya melarat. Kekeringan dan paceklik, adalah sahabat mereka. Tak ada beras, meski dengan kualitas terburuk sekalipun. Sehari-hari, gaplek menjadi makanan pokok pengganti nasi.

Warga Dukuh Paruk tak mampu mendefinisikan Tuhan. Gusti mereka adalah mendiang Eyang Secamenggala, sang moyang yang konon adalah seorang bromocorah. Lewat ritual-ritual, para warga selalu menanti sasmita dan ridhonya.

Satu-satunya hiburan bagi mereka adalah ronggeng. Sebuah kesenian erotik yang ditunjukkan lewat tarian perangsang berahi. Tak hanya menari, sang ronggeng juga menjadi penjaja seks. Dukuh yang tak mengenal nilai ini, tak mengharamkan prostitusi. Para lelaki berlomba-lomba menjajal Srintil. Hal itu tak pernah menimbulkan cemburu bagi para perempuan-perempuan Dukuh Paruk. Mereka justru akan semakin bangga apabila suaminya berlama-lama melakukan tayub dengan sang ronggeng.

Resensi Ronggeng Dukuh Paruk
Srintil Si Ronggeng Dukuh Paruk, Menari | Resensi Ronggeng Dukuh Paruk
                                                                     Sumber: focus-on-asia.com

Fenomena tersebut secara visual digambarkan Ifa Isfansyah dalam film Sang Penari yang terinspirasi novel ini. Dalam film tersebut, diperlihatkan seorang perempuan desa usia 40 tahunan menjemput suaminya di rumah Nyai Kertareja, tempat di mana Srintil tinggal. Ia memasuki kamar tayub dan mendapati suaminya tengah tertidur lemas usai bercinta dengan Srintil.



“Mas, mas bangun Mas,” bujuk perempuan itu. “Mas mas, ayo pulang.” Tak ada kecemburuan dalam mimik muka perempuan itu. Ia malah tampak bangga dan bahagia melihat suaminya berkesempatan menjamah tubuh sang ronggeng. Lalu, suami yang setengah sadar itu ia papah dengan terhuyung menuju rumahnya. Sebelum pulang, ia sempat memberikan sebuah bungkusan plastik pada Srintil. “Sandal baru, Jenganten,” bisiknya lirih. Dengan sikap takdhim, ia memperlihatkan rasa terima kasih yang tak terkira. Betapa menggetirkan.

Menggunakan latar 1960-an, Tohari menghadapkan realitas ketertinggalan Dukuh Paruk dengan situasi politik yang ada saat itu. Mereka terkena imbas dari apa yang ia sebut sebagai pergolakan politik tahun 1965. Peristiwa itu dalam sekejap meruntuhkan eksistensi Dukuh Paruk dan menjadikannya terpuruk.

Alkisah, ketenaran Dukuh Paruk akan ronggengnya menarik perhatian Pak Bakar yang belakangan diketahui sebagai seorang kader PKI. Dengan berbagai pendekatan dan iming-iming, Pak Bakar berhasil membawa ronggeng ke atas panggung propaganda. Ronggeng ia gunakan sebagai penarik massa untuk masuk ke dalam pengaruh ideologinya.

Ronggeng ia puja-puja sebagai kesenian rakyat, kesenian yang mesti dilestarikan. Pak Bakar memberi mereka papan nama yang harus dipasang meski mereka buta aksara. Speaker dan atribut peronggengan dihadiahkan secara cuma-cuma. Ia melarang dilakukannya ritual-ritual khusus sebelum pentas yang ditujukan untuk memohon restu dari Kyai Secamenggala. Dukuh Paruk yang bodoh menerima saja. Mereka tak pernah menduga bahwa hal itulah yang kelak membuat mereka dicap sebagai orang-orang merah, golongan kiri, antek PKI.

Puncak pergolakan terjadi. Enam jenderal terbunuh pada ‘malam jahanam’ 1 Oktober 1965. Selanjutnya justifikasi mengenai siapa yang menjadi dalang di balik peristiwa itu begitu saja dijatuhkan kepada PKI sebagai kekuatan yang vis a vis TNI pada masa itu. Sterilisasi terhadap unsur PKI dilakukan. Semua orang yang dicurigai memiliki afiliasi dengan PKI langsung diciduk. Dukuh Paruk tak luput dari upaya pembersihan itu.



Pedukuhan diobrak-abrik, dibumihanguskan. Beberapa orang ditahan. Diantaranya Sakarya sang kamitua dukuh, suami istri Kartareja sang dukun ronggeng, dan tak ketinggalan, Srintil sang perlambang jati diri Dukuh Paruk.

Mereka tak sampai dibunuh atau diasingkan hingga berpuluh tahun. Dalam waktu yang tak lama, mereka dikembalikan lagi ke dukuhnya. Namun gairah hidup mereka sirna. Mereka kembali dalam kekalahan, trauma dan beban sejarah pahit yang mesti dipikul sebagai ekstapol.

Kejayaan ronggeng seketika terhenti. Popularitas Dukuh Paruk anjlok. Mereka terkungkung dalam keterasingan sosial. Srintil, meski tetap jelita, tak lagi didamba lantaran identitas bekas narapidana yang disandangnya. Bangunan percaya dirinya runtuh. Sikap kenesnya berubah menjadi rasa minder dan paranoia yang akut.

Kiprah si Organisasi Merah

Fenomena PKI dan gerakan 30 September adalah sejarah yang tak bisa dilupakan bangsa Indonesia. Pada masa keruntuhannya, partai yang konon dapat merekrut jutaan massa ini, membawa korban dalam jumlah tak sedikit. Tak kurang, ratusan ribu nyawa melayang dan jutaan lainnya harus melanjutkan hidup dalam keterasingan sosial mirip yang dialami Srintil.

Munculnya komunisme di Indonesia tak lepas dari ajaran marxisme yang kala itu tengah mendunia. Marxisme merupakan cikal bakal bagi apa yang kemudian disebut sebagai komunisme. William Ebenstein dalam bukunya Isme-Isme yang Mengguncang Dunia menyatakan bahwa Karl Marx sebagai pengusung gerakan ini memiliki kepercayaan bahwa terjadi penjajahan kelas yang dilakukan kelas pengusaha terhadap kelas proletar.

Kelompok kelas pengusaha menggerakkan segala alat superstruktur seperti hukum, politik dan ideologi untuk memblokir pertumbuhan kekuatan-kekuatan proletar. Demi keadilan, Marx memandang perlu diciptakannya masyarakat tanpa kelas. Demi tujuan itu, revolusi adalah harga mati.

Resensi Ronggeng Dukuh Paruk
Karl Marx | Resensi Ronggeng Dukuh Paruk
                                                                    Sumber: telegraph,co.uk

Lenin, mengejawantahan secara praktis ajaran Marx dalam suatu badan organisatoris.  Pada bulan Maret 1919 ia membentuk Komintern  (Internasionale Komunis) di Moskow (Soedjono, 2006:12). Dalam pidatonya ia menyatakan bahwa mayoritas kaum buruh di Timur bukan terdiri dari buruh melainkan para tani yang terkungkung dan tertindas feodalisme. Perjuangannya adalah melawan feodalisme. Ini kemudian yang menjadi dasar falsafah perjuangan PKI.



Dalam perkembangannya, PKI melakukan rekrutmen besar-besaran dan melakukan beberapa gerakan. Tahun 1926-1927 pecah pemberontakan di Jawa dan Sumatera. Namun pemberontakan ini kandas akibat penumpasan dan represifitas pemerintah kolonial.

Pemberontakan kembali pecah tahun 1948 di Madiun. Efek peristiwa Madiun ini cukup besar. Setelah peristiwa Madiun, banyak dilakukan tindakan-tindakan penangkapan dan pemenjaraan orang-orang komunis tanpa proses, salah satunya oleh klik Nasution, AD yang anti komunis . Namun dalam upayanya Nasution masih banyak membuat pertimbangan karena PKI masih berada dalam perlindungan Soekarno.

Rezim Soekarno saat itu ibarat suatu segitiga dengan tiga sudut. Soekarno pada puncaknya sementara TNI (AD) dan PKI di sudut kaki-kakinya. PKI dijadikan teman oleh Soekarno untuk menghadapi rongrongan dari CIA yang mulai nyata. PKI dipilihnya karena selain sebagai sebuah partai massa yang besar, Soekarno melihat ciri revolusionalan pada PKI yang tak pada partai-partai yang lain.

Dari tahun 1951-1965 dari anggota PKI yang semula 10.000 telah mencapai angka tiga juta. Dalam partai ini siapa saja yang setuju dengan program kerja partai dianggap menjadi anggota. PKI selalu membangun kedekatan dengan massa. Sikap keterbukaan dan tak adanya kewaspadaan inilah yang membuat perwira-perwira kanan AD melakukanmassacre atau pembantaian terhadap ribuan komunis dan rakyat tak berdosa dalam rangka melumpuhkan PKI secara organisatoris pasca ditudingnya ia jadi dalang peristiwa 1 Oktober 1965.

Akhir Cerita Dukuh Paruk

Pasca tragedi politik yang mengimbasnya, Dukuh Paruk hidup dalam keheningan. Ruang kontemplasi tercipta dalam benak tiap-tiap mereka. Sakarya menghabiskan sisa hidupnya dengan penuh penyesalan dan ratap kekalahan. Sebagai kamitua ia merasa bertanggung jawab atas malapetaka yang menimpa perdukuhannya. Ia merasa keblinger, tak mengindahkan petuah sang moyang. Sementara Srintil berusaha membangun kembali jiwanya yang rapuh. Masa lalunya ia pandang sebagai kesalahan yang enggan ia ulangi. Ia tak mau lagi meronggeng. Dan benar, indang ronggeng lenyap dari tubuhnya.



Mimpi Srintil selanjutnya adalah menjadi seorang wanita somahan yang berkutat di dapur dan menyerahkan dirinya semata untuk sang suami. Namun siapa yang mau menjadi suami eksnarapidana? Berulang kali pertanyaan itu bergaung dalam benaknya.

Diantara sekian banyak lelaki yang pernah singgah dalam hidupnya, bagi Srintil, Rasuslah yang paling istimewa. Pada Rasus, Srintil menyimpan satu perasaan paling primitif manusia. Cinta. Namun kini Srintil terlalu rendah diri untuk membayangkan dirinya bersanding dengan Rasus.

Rasus adalah bocah Dukuh Paruk, teman kecil Srintil. Mereka biasa menghabiskan waktu di bawah pohon pepaya, bermain ronggeng-ronggengan. Srintil melenggak-lenggok laiknya ronggeng, sementara Rasus mengiringinya dengan bebunyian meniru suara calung. Semua itu terjadi sebelum Srintil benar-benar menjadi ronggeng.

Rasus tak pernah rela Srintil menjadi ronggeng sungguhan. Tapi menjadi ronggeng adalah obsesi besar Srintil kala itu.

Sebelum menjadi ronggeng, Srintil harus menjalani ritual bukak-klambu, menyerahkan keperawanannya kepada lelaki yang sanggup memberi bayaran tertinggi. Kendati keperawanan Srintil pada akhirnya diserahkan dengan penuh keikhlasan kepada Rasus, toh ia tetap tak bisa menerima status Srintil yang kini telah jadi milik semua orang. Masygul hati Rasus melihat para lelaki menyelipkan uang ke dalam dada muda perempuan yang disayanginya itu. Ia memilih pergi.

Melanglang buana di Kecamatan Dawuan, Rasus akhirnya menjadi tentara meski tanpa pangkat. Berkat kemahirannya, ia direkrut oleh Sersan Pujo. Ia mengabdi pada kesatuan yang disebut dengan Puterpra. Semenjak itu, tak pernah kelihatan lagi batang hidung Rasus di Dukuh Paruk.

Ia muncul lagi setelah tragedi politik itu terjadi. Dengan seragam hijaunya yang gagah, kedatangan Rasus memberi harapan baru bagi segenap puaknya di Dukuh Paruk. Mereka kembali menghubung-hubungkannya dengan Srintil. Warga dukuh mengharapkan pernikahan antara dua insan itu terjadi. Pertama, mereka diduga masih saling mencintai. Kedua, mereka akan menjadi pasangan yang serasi antara cah bagus dan wong ayu. Dan ketiga, pernikahan itu akan mengikat Rasus dengan Dukuh Paruk. Dengan statusnya sebagai tentara, keberadaan Rasus di sana dipercaya akan membawa perlindungan dan menerbitkan kembali harga diri mereka.

Resensi Ronggeng Dukuh Paruk
Rasus | Resensi Ronggeng Dukuh Paruk
                                                        Sumber: moviefreak.blogspot.com

Pernikahan itu tak terjadi. Status masing-masing sebagai ekstapol dan tentara mempersulit hubungan mereka. Komunikasi terjalin dalam suasana canggung. Hanya beberapa hari singgah di Dukuh Paruk, Rasus pergi berdinas ke Kalimantan.



Selepas kepergian Rasus, Srintil menjalin hubungan dengan Bajus, seorang kontraktor dari Jakarta yang tengah membangun irigasi di Dawuan. Fenomena pembangunan yang ada ingin mengatakan bahwa telah terjadi perubahan pada konteks sosial kala itu. Naiknya Soeharto sebagai pengganti Soekarno membawa sistem sosial politik Indonesia dalam fase yang dikenal dengan Orde Baru.

Seperti diungkap Emmerson dalam Indonesia Beyond Soeharto, prioritas Orde Baru adalah  menghentikan angka inflasi yang melejit tak terkendali. Untuk mencapai tujuan itu, mereka berupaya menyeimbangkan anggaran lewat bantuan investasi Barat serta Jepang. Bantuan itu disalurkan sebagai penyokong proyek-proyek pembangunan tertentu.

Di masa Soekarno, sarana dan prasarana seperti bandar udara, jalan raya, kereta api, pabrik dan stasiun pembangkit listrik sangat tak terurus. Transisi Orde Lama ke Orde Baru pada 1965-1968 mencoba mengatasi masalah tersebut. Pemerintahan baru itu menggunakan pembangunan ekonomi sebagai priotas, bahkan pembenaran dirinya.

Diprioritaskannya pembangunan memicu banyaknya proyek yang tak urung membuat praktik KKN bersemi bak cendawan di musim hujan. Seiring zaman yang berubah, tercetak mental-mental manusia yang kental orientasi rupiah. Bajus sebagai salah satu orang proyek adalah contoh penderita mentalitas itu.

Hubungan Bajus dengan Srintil terjalin apik, pada awalnya. Ia yang katanya terpikat oleh sosok Srintil yang ayu, melakukan pendekatan secara-baik-baik. Tak pernah ia menunjukkan maksud untuk meminta belaian Srintil. Cara itu tak urung membuat Srintil merasa dihormati. Ia merasa diperlakukan laiknya wanita pada umumnya. Cita-citanya kembali bersemi, menjadi seorang wanita somahan, istri yang mengabdikan dirinya semata pada sang suami.

Suatu hari, Bajus membawa Srintil ke suatu rapat. Konon, rapat itu adalah rapat yang sangat penting. Melalui bosnya yang bernama Pak Blengur, Bajus ingin mendapatkan tender besar yang diincarnya selama ini. Sesuai rencana, dipersembahkanlah Srintil ke pangkuan sang atasan. Ia bujuk Srintil agar mau melayani Pak Blengur. Kontan, Srintil terkejut. Ia merasa tertipu dan kecewa bukan kepalang. Gambaran dirinya sebagai wanita bermartabat lenyap seketika. Meski akhirnya praktik germo itu batal dilakukan lantaran sang bos merasa kasihan dengan Srintil, batin Srintil terlanjur terguncang.

Rasus pun pulang dari Kalimantan. Memasuki rumah Kertareja, ia mendapati Srintil yang sama sekali berbeda. Srintil yang kehilangan cahaya. Perempuan itu meraung-raung tanpa kendali sejalan dengan akal yang tak lagi bersatu dengan tubuhnya. Tatapan Rasus nanar. Sebagai anak kandung Dukuh Paruk, ia menyaksikan ibunya berakhir dengan menyedihkan.


Refleksi

Massa merupakan elemen penting dalam kekuasaan. Ia berfungsi sebagai representasi dukungan dan legitimasi. Setiap kekuasaan akan membuat strategi untuk menarik hati massa. Mereka dikumpulkan melalui propaganda, orasi dan agitasi. Kawula alit adalah sasaran empuk permainan itu. Kombinasi antara kemiskinan, kebodohan dan rasa rendah diri yang diwujudkan dalam sikap menghamba pada golongan priyayi, membuat mereka mudah dijadikan alat.

Pada kasus PKI, sejarah memperlihatkan bahwa masyarakat akar rumput dijadikan basis massa untuk memperkuat posisi partai. Belum jelas benar siapa sesungguhnya dalang G30S, namun kekuatan politik tandingan telah menuding PKI sebagai biang keladi. Pembersihan segera dilakukan. Penumpasan rakyat kecil yang ‘terciprat’ unsur itu dilakukan secara membabi buta. Asumsinya, ketika basis massa hilang maka sirnalah legitimasi dan lenyap sudah hegemoni. Dan formula itu agaknya tak diragukan efektivitasnya.

Usai malapetaka itu terjadi, warga Dukuh Paruk tak menyalahkan siapa-siapa kecuali dirinya sendiri. Mereka mengutuk nasib dan dosa-dosa yang mungkin ia lakukan pada masa lalu. Mereka tak melakukan protes, melainkan terus menimbun beban hidupnya di atas jiwanya yang merapuh.

Padahal, keterlibatan warga Dukuh Paruk dalam PKI tak bisa ditemukan pembenarannya. Dengan cara apa mereka dikatakan komunis jika bahkan mereka tak mengerti apa itu ideologi? Jangankan ideologi, mereka pun tak paham akan agama. Yang mereka anut masihlah sistem kepercayaan purba: mengembalikan segala sesuatu ke haribaan Eyang Secamenggala.

Di era Orde Baru, mereka kembali jatuh. Selepas komunisme tumbang, giliran kapitalisme yang menghancurkan mereka. Meski tak dilakukan seeksplosif masa lalu, namun kejatuhan kedua ini berhasil membawa hidup Srintil pada titik nadirnya. Mentalitas kapitalis menghalalkan segala cara demi memburu rupiah. Dan dalam sistem itu masih saja berlaku premis sama, yang bodoh dan terbelakang adalah tumbalnya.



Judul Pergolakan Elite di Atas Ketakberdayaan Kawula Alit ingin merepresentasikan kondisi sosial politik yang tersaji dalam Ronggeng Dukuh Paruk masa itu. Hidup dalam dua orde yang berbeda, dua kali pula mereka menjadi korban karenanya. Keterbelakangan dan kurangnya pendidikan gagal membuka mata para warga Dukuh Paruk bahwa tragedi-tragedi yang terjadi adalah suatu kesalahan sistem atau imbas dari perseteruan nafsu-nafsu kuasa. Permainan politik selalulah pergolakan yang terjadi di tingkat atas. Bagi kawula alit, permainan itu adalah sesuatu yang tersembunyi, tak pernah kasat mata, namun tanpa sadar menggiring mereka.

 

Referensi:

Adam, Asvi Warman. 2009. Membongkar Manipulasi Sejarah: Kontroversi Pelaku dan .Jakarta: Kompas Media Nusantara.

Emmerson, Donald K. 2001. Indonesia Beyond Soeharto. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

Ebenstein, William. 2006. Isme-Isme yang Mengguncang Dunia. Yogyakarta: Narasi.

Soedjono, Imam. 2006. Yang Berlawanan: Membongkar Tabir Pemalsuan Sejarah PKI.Yogyakarta: Resist Book.

 

Ditulis untuk Mata Kuliah Sejarah Sosial Politik Indonesia
Khalimatu Nisa, 2011
Resensi Ronggeng Dukuh Paruk

2 thoughts on “Resensi Novel Ronggeng Dukuh Paruk: Pergolakan Elite di Atas Ketakberdayaan Kawula Alit

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *