Paranoia

Posted on
Paranoia
Paranoia
         Sumber: imamrisoyo.blogspot.co.id

Paranoia. Gerimis turun tipis. Titik-titik air menerpa wajahku. Kurasakan kedua mataku basah seakan-akan aku sedang menangis.

Jalan raya terbentang panjang, terjulur dari ujung-ujung yang tak pernah kutahu. Apakah jalan raya ini memiliki ujung? Mungkinkah jalan raya ini adalah sebuah lidah milik seorang raksasa dan akan berujung di telaknya? Bagaimana jika raksasa itu menelan orang-orang yang berlalu lalang di jalan raya ini? Akankah jalan raya ini berujung di lambungnya? Usus besarnya? Halusinasiku berkecamuk. Kususuri jalan raya ini dengan perasaan mencekam.

Tak lama, aku dikejutkan oleh sebuah mobil polisi yang berjaga 100 meter dari tempatku berada. Tampak juga beberapa petugas berdiri dengan rompi yang menyala. Mudah sekali kuterka bahwa mereka sedang melakukan razia lalu lintas. Karena tak membawa surat-surat, kuputuskan segera menghindar: putar balik. Aku tidak boleh terciduk razia karena dengan demikian Bapak akan marah besar.

Ketika berputar, mataku terlalu awas pada spion sehingga BRAK. Aku dan ketololanku menubruk bemper mobil yang tengah mendekam di tepi jalan. Suara tubrukan itu cukup keras sehingga, jika si pemilik ada disini ia akan segera tahu kalau mobilnya kucelakai. Ia bisa dengan mudah melaporkanku pada polisi-polisi disana, lalu aku diringkus, kemudian dipenjarakan. Tidak, tidak. Aku tak mau dipenjara. Kuputuskan untuk buru-buru kabur.
Aku memilih menikung ke kiri dan selanjutnya, kujalankan motor dengan penuh tanda tanya. Sebelumnya, aku tidak pernah lewat sini. Tapi kukira, menyusuri jalan ini jauh lebih baik ketimbang dijebloskan dalam bui.

Maka di jalan sempit yang dipayungi rimbun pepohonan ini, aku terhisap dalam alam lamunanku. Terbayang mata rantai sebab musabab yang membuat aku, kini berada di sini.

***

Jadi, pagi tadi dugaanku tepat: aku sampai sekolah terlambat. Kususuri koridor sekolah menengah itu dengan langkah tersuruk-suruk, sedikit berlari. Rasa bersalah, memelukku erat sekali. Takut-takut, kubuka pintu kelas. Mereka –teman-teman sekelasku itu, seperti biasa, menusukku dengan tatapan dingin.



“Sudah pukul berapa ini?” Bu Guru menanyaiku. Aku diam.

“Kenapa bisa terlambat sekali?” Sepi. Aku tak mungkin bicara, tak mungkin bisa bicara. Baru setelah sekian lama, “Maaf,” ucapku akhirnya, terbata-bata. Anak-anak berdesis, melempar sinis. Aku benci, seolah-olah seluruh kelas menyerangku.

“Baiklah, kukira kau tak keberatan untuk mengerjakan tugas tambahan. Ada di buku halaman 301. Kumpulkan esok pagi.”

Aku mengangguk. Kurasa Bu Guru marah padaku. Ah, betapa kacaunya aku.
Apa lacur, malam ini aku menipu Bapak: meminjam motor untuk memfotokopi buku. Padahal, aku hilir mudik hinggap dari satu perpustakaan ke perpustakaan lain untuk mencari buku yang menjadi sumber tugas hukumanku. Ya, aku tak punya buku, sementara seluruh kelas punya. Tapi, meminjamnya dari mereka, ibarat mengencingi harga diriku sendiri.

Begitulah. Memang, biang keladi dari semua ini adalah keterlambatanku. Dan aku terlambat gara-gara sebuah mimpi buruk yang mengguncang pagiku. Mimpi, bunga tidur itu, menyeruak tiba-tiba lalu menggarami getir dan dendam yang sejak dulu kucoba telan sendirian. Mimpi buruk itu lebih buruk dari mimpi buruk manapun sebab sesungguhnya ia nyata, bertahun-tahun silam.

***

Dukuh Bojong, Agustus 1999
Beberapa bocah bergerombol di pinggir lapangan desa, berencana menuntaskan petang dengan jilumpet. Aku diantaranya.



“Hiyaa, Osan kau yang jaga!” Osan si gendut menurut. Muka ia tenggelamkan diantara kedua lutut kemudian mulutnya mulai komat-kamit menghitung.

“Sst, Fafa!” Japran menyeruku setengah berbisik. “Ikutlah ke tempat persembunyianku! Pasti aman!”

Japran adalah bocah paling senior diantara kami. Mendapat ajakannya, adalah kebanggaan bagiku. Aku mengangguk sembari tersenyum.

Bersama Nurul dan Bagas, kami berempat berlari kecil-kecil menuju persembunyian Japran.
“Jap, dimana sih?” sungut Bagas.

“Sst!” Japran terus berlari ke selatan sampai Osan benar-benar tak kelihatan.

“Apa tidak terlalu jauh?” tanya Nurul.

Japran membentak, “Ahh, pergi saja kalau ribut!” Tersinggung, Nurul dan Bagas berhenti berlari, mereka mencari persembunyian sendiri.

“Fafa, kau masih bersamaku, kan?” Aku mengangguk pasti. Tak lama, langkah kami berhenti.

“Kau sembunyilah di belakang rumpun pisang itu. Aku akan mengawasi dari balik semak ini. Jika ada yang datang, aku akan memberimu kode, oke?” Kuamati, jarak antara rumpun pisang dan semak-semak cukup jauh, ada pembatas berupa jajaran ketela pohon. Tapi aku tak bisa menolak, lagi-lagi aku mengangguk.

Di balik rumpun pisang aku membayangkan, hari ini aku akan memenangkan permainan. Aku boleh menghukum siapapun yang kalah, sesuatu yang luar biasa bagi bocah umur enam tahun sepertiku. Aku tersenyum kecil dibawah setandan pisang mengkal yang tergantung pada rumpun pisang itu.

Lama kelamaan, aku merasa terlalu lama berada di sini. Lelah berdiri, aku memilih jongkok. Tatkala menengadah ke langit, tampak di mataku petang kian matang. Japran belum juga memberiku kode. Aku semakin cemas, sandekala segera tiba.



Kuputuskan melangkah menuju semak-semak, mencari Japran. Ketika kuterobos jajaran ketela pohon itu, aku baru sadar semak-semak ada di mana-mana. Aku bingung, di semak mana tadi Japran bersembunyi? Kuedarkan mata ke sekeliling, Japran tetap tak ada. Kenapa dia tak memberiku kode? Kenapa aku ditinggal sendirian?

Aku benar-benar sendiri di hamparan semak itu. Langit makin gelap dan aku tak tahu jalan pulang. Aku gelisah, apalagi setelah samar-samar kulihat tudung trembesi membentang lebar tak jauh dari tempatku. Mitos-mitos kampung mengerubungi pikiran kanak-kanakku. Trembesi di sana itu konon kata Bapak, simbol segala keangkeran Dukuh Bojong. Tak ada orang yang berani dekat-dekat.
Dadaku sesak, mataku panas. Aku ingin menangis.

Namun keinginan itu tak bertahan lama karena seorang pemuda tiba-tiba datang menghampiriku.

“Sedang apa di sini?” Aku cuma menunduk, diam.

“Dengan siapa?” Aku menggeleng lemah. Selanjutnya pemuda itu tersenyum lalu merangkulku dan menuntunku pulang.

Lega akhirnya kami hampir sampai di pinggir lapangan tempat tadi aku dan teman-temanku memulai jilumpet. Teman-temanku sudah tak ada. Barangkali mereka sudah pulang sejak tadi dan telah pula berangkat ke surau.

Di tengah lamunanku, tak kuduga si pemuda mendorongku hingga jatuh. Ia kemudian membalik tubuhku yang semula tersungkur. Dengan sigap, sebuah tangannya membekap mulutku dan yang sebuah lagi berkutat dengan celananya. Aku tak bisa melihat dengan jelas, tapi yang kurasakan, ia menyibak rok ku dengan beringas. Aku ingin meronta, tapi tercekat di tenggorokan sebab ia menyakitiku bertubi-tubi. Belum pernah aku merasa begitu tersiksa.

Penyiksaan itu terjadi sekitar tiga menit lamanya. Si pemuda menghembuskan nafas panjang sebelum berlari pergi. Selanjutnya selangkanganku perih sekali, mungkin terluka. Tangan dan kakiku gemetar, gigiku bergemeletuk, nafasku tersengal. Itulah pertama kalinya, aku menangis tanpa mengeluarkan air mata.

Maghrib hampir beranjak isya saat aku takut-takut memasuki rumah. Ternyata Bapak telah menungguku. Tanpa berkata-kata dan belum sempat aku menjelaskan apapun, Bapak menyambitku dengan sarung yang semula mengalung di pundaknya. Tidak cuma sekali, tapi sampai empat kali. Punggungku sakit semua. Kemudian, ia menempelengku sembari membentak agar aku lekas mandi.

Kamar mandi dingin sekali. Aku melihat bercak-bercak merah dicelanaku. Selangkanganku masih sakit. Dan dari surau dekat rumahku, samar-samar aku mendengar suara teman-temanku merapal doa-doa dengan ceria. Itulah saat dimana dendam dalam hatiku mulai mengeras, membatu.



Dari peristiwa itu aku belajar tentang tiga hal: Bapak adalah sosok tak terbantahkan, teman adalah kutukan dan orang-orang asing adalah penjahat.

***

Seketika aku bangkit dari lamunan untuk menyadari betapa aku sudah berjalan jauh sejak dari jalan raya tadi. Dan kurasa aku lupa dimana saja aku mengambil belokan. Di mana aku sekarang? Sepertinya sedari tadi kanan kiriku tak berubah: rimbun pepohonan yang memayungi jalan. Sejauh mataku memandang ke depan, yang ada cuma jalan sempit tak ada ujung seperti sebuah gambaran perspektif satu titik hilang. Bagaimana aku pulang?

Pertanyaan itu semakin tak terjawab ketika kurasakan lampu motor kian meredup diikuti bunyi mesin yang melemah serta putaran ban yang melamban. Ya, bensin. Bensinku habis tanpa persetujuanku. Selanjutnya, motorku benar-benar berhenti dan tak bisa kembali menyala.

Aku berjongkok di samping motorku, di tepi jalan yang tak kukenal. Kuedarkan pandangan ke sekeliling. Daun-daun yang rimbun menjelma bayangan tudung trembesi. Dahannya bergelayut seperti melambai padaku. Hawa kejahatan sedikit demi sedikit menyerbak.

Kulihat buku cetak hasil pinjaman masih tergantung di motor. Tugas hukumanku belum kukerjakan dan Bapak bersama amarahnya tentu tengah gelisah menungguku di rumah. Pelan tapi pasti, aku mulai ketakutan dan menggigil.

Gerimis masih turun, tipis. Titik-titik air terus menerpa wajahku. Kurasakan kedua mataku semakin basah. Kini, aku benar-benar menangis.

Magelang, November 2010
Cerpen ini dimuat di antologi cerpen “Paranoia

BIODATA
Mamatitun adalah sapaan akrab Khalimatu Nisa di kelasnya: XII Ilmu Sosial 1, SMA Negeri 1 Magelang. Ia yang tak termasuk dalam hirarki kepengurusan kelas ini mengaku senang terlibat dalam organisasi maupun diskusi, khususnya dalam komunitas JEDA. Kecuali dalam buletin JEDA dan majalah sekolah, karya-karyanya belum pernah dimuat di media massa manapun. Dan itu, akan menjadi pemicunya untuk terus berkarya dengan menjauhkan diri dari rasa malas. Korespondensi: nisa.atthoyibbi@yahoo.com

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *